Automotive: Hobi Modifikasi
Hobi modifikasi jangan cuma mementingkan penampilan. Bakal jadi percuma kalau sampai mengubah atau menghilangkan fungsi vital kendaraan.
Ingat dong, gimana keren dan serunya tampilan mobil yang ada di film The Fast and the Furious? Percaya atau enggak, di jalanan Indonesia makin banyak mobil yang dimodifikasi ala film tersebut.
Modifikasi mobil atau motor memang terasa makin diminati dua tahun belakangan ini. Selain lantaran banyak yang menginspirasi-macam film-film bertema otomotif-banyak juga kontes modifikasi kayak gini. Sudah gitu bengkel modif pun makin marak. Ibaratnya, mau model gimana juga, asal duitnya ada, pasti bisa. Mulai dari mengubah dudukan kemudi menjadi di tengah, atau mengubah tampilan pelek motor sehingga enggak perlu memakai jeruji lagi, sangat mudah dijumpai.
Bikin susah
Disadari atau enggak, melakukan modifikasi sangat berpengaruh pada penampilan mobil. Dari faktor kenyamanan sampai fasilitas bisa jadi berkurang drastis.
Lihat saja Bintang, siswa SMA Pangudi Luhur. Sejak Audi A3-nya diceperin (dipendekin), polisi tidur adalah musuh utama Bintang. “Jalan ke sekolah gue banyak banget polisi tidurnya. Setiap kali lewat jalan yang ada polisi tidurnya, mobil gue pasti beradu sama aspal. Makanya gue enggak pernah bawa mobil lagi ke sekolah,” ujarnya.
Atau ada juga pengalaman Firas, anak SMA Yadika 5, Tangerang, yang mendadak jadi sering ganti knalpot motornya. Pasalnya, motor Kawasaki Kaze-nya tuh dibikin ceper banget sehingga blok mesinnya nyaris menyentuh aspal. Jelas saja kalau knalpotnya sering gesekan dengan aspal. “Saking keseringan, bentuknya jadi kayak huruf D,” katanya.
Itu dari kenyamanan. Masalah kebersamaan juga harus dibuang jauh-jauh. Andri, misalnya, dulu urusan menjemput teman, siswa SMP Muhammadiya 9 ini jagonya. Tapi, sejak jok belakang Toyota Corolla Altis-nya dicabut, Andri rela hanya bisa ngajak satu orang kawannya setiap kali gaul. Gimana enggak, jok belakang yang tadinya bisa membawa 2-3 orang kawannya kini berganti jadi jejeran speaker.
Selain kenyamanan yang terganggu, konsekuensi lain yang harus diterima adalah omelan dari orangtua. “Mobil gue dibilang kayak gerobak sama bokap gue,” beber Bintang.
Andy lain lagi, siswa SMA Pembangunan Jaya 2 ini harus “tabah” gara-gara kedua orangtuanya enggak mau lagi naik Honda City miliknya. Habis, jok busa yang empuk malah diganti jok racing berbahan fiberglass.
Selain kenyamanan, faktor biaya perawatan juga lumayan bikin kantong kering. Cat kusam sedikit harus buru-buru dipoles. Biar tampilan terlihat beda, let’s say ganti pelek dengan ukuran lebih besar sudah memakan biaya tersendiri. Buat gambaran saja nih, peleg racing bikinan Taiwan ring 18 inci harganya sekitar Rp 5 juta. Itu masih lebih murah dibandingkan dengan pelek racing keluaran Eropa atau Jepang, yang bisa mencapai 4 atau 5 kali lipat.
“Ngurus mobil yang dimodifikasi memang capek, harus telaten banget. Belum lagi memakainya enggak bisa sembarangan,” ujar Nanis, siswi SMA 3 Semarang.
Modifikasi yang dilakukan Nanis memang rada ekstrem. Bayangkan saja, Honda Jazz keluaran tahun 2004 miliknya berengsel pintu modifikasi. Alhasil kala dibuka, pintu depan dan belakang membuka ke arah yang berlawanan. Belum lagi kaki-kaki mobilnya juga sudah dilengkapi sistem hidrolik.
Sisi positif
Kalau diperhatikan, sepertinya kegiatan modifikasi tuh cuma buang-buang waktu, tenaga, dan uang. Padahal, awalnya keinginan buat mengubah tampilan kendaraan bukannya enggak ada maksud baik. Yang jadi tujuan utama adalah buat menambah keren penampilan kendaraan.
Menambah keren di sini dalam artian positif. Maksudnya biar lebih puas saat mengendarai kendaraan, makanya harus ada nilai lebih yang ditambahkan. Lagi pula enggak ada salahnya juga kan membanggakan kendaraan yang sudah diserahi tanggung jawab buat pemakaiannya.
“Gue memodifikasi mobil tujuan awalnya sih memang buat penampilan aja. Gue suka kalau mobil gue kelihatan rapi dan elegan setelah dimodifikasi. Intinya lebih buat kepuasan diri sendiri,” jelas Nanis.
Kebanggaan lain, ada kepuasan kalau ide kreatif yang diaplikasikan ke kendaraan jadi perhatian banyak orang. Enggak bisa dimungkiri kalau salah satu tujuan tampil beda adalah buat pamer. Meski jarang yang mengakui secara terang-terangan, tapi bisa dianggap hal ini memang ada benarnya.
“Sejak motor gue diceperin, banyak banget yang memerhatikan setiap kali gue bawa jalan. Termasuk cewek-cewek,” kata Firas bangga.
Syukur-syukur kalau bisa mendapatkan pengalaman seperti Andri dengan mobil Toyota Corolla Altis-nya. Dengan modifikasi full body kit plus cat mentereng, mobilnya enggak cuma dilirik orang awam atau sesama penggila otomotif aja. Sampai produser sinetron pun ikut-ikutan tertarik. Jadinya tuh mobil sempat dipakai beberapa kali buat kebutuhan syuting sebuah sinetron remaja.
Tapi, ya itu tadi, demi penampilan keren ternyata harus siap menanggung risiko. Mungkin buat yang sudah siap enggak bakal jadi masalah. Apalagi kalau sebelumnya sudah memperhitungkan ada kelemahan pada kendaraannya yang mau enggak mau harus ditutupi dengan modifikasi.
“Gue memodifikasi mobil sampai total luar dalam biar lebih keren. Selain eksterior banyak mengalami perubahan, interior juga sama aja. Bangku belakang mobil aja enggak masalah gue hilangin buat naruh perangkat audio. Soalnya bagian belakang nih mobil sempit juga sih,” jelas Anta, teman kita dari SMA 6, Jakarta, yang masih memakai mobil Peugeot 206-nya sehari-hari meski sudah dirombak gila-gilaan.
Lantas ada satu lagi hasil dari hobi modifikasi yang belakangan dijadikan ajang buat membuktikan kalau kegiatan ini enggak percuma. Contohnya adalah menyertakan mobil yang sudah dirombak pada kontes modifikasi.
Maraknya kontes modifikasi yang digelar belakangan ini lantaran sambutan yang sangat antusias dari penggila otomotif. Jelas yang paling antusias adalah para pelaku modifikasi. Pasalnya, lewat ajang ini mereka sekaligus membuktikan kalau hobi modifikasi tuh enggak mubazir.
“Yang paling membanggakan, gue sering jadi juara kontes. Gue sudah berhasil meraih 16 gelar juara. Dari kontes-kontes modifikasi yang digelar di Semarang, Yogya, sampai Jakarta. Terakhir jadi juara tuh sewaktu gelaran Jazz Tuning Contest di Jakarta kemarin ini. Awalnya sih enggak kepikiran sama sekali buat ikutan kontes kayak gini. Tapi, ternyata hasilnya cukup membanggakan,” kata Nanis.
Itu juga yang bikin Ibnu dari SMA Harapan Ibu, Jakarta, banting setir dengan hobi otomotifnya. Sebelumnya teman kita ini lebih hobi ikutan off road dengan mobil Suzuki Jimny Sierra-nya. Tapi, belakangan kepuasan yang dirasa sudah beda ketimbang waktu awal ikutan off road. Apalagi keinginan buat pamer dan mencari hasil yang lebih mulai muncul.
Jadinya mobil yang sudah dirombak bergaya off road ditambah lagi dengan unsur-unsur modifikasi yang modis. Beberapa bulan belakangan ini Ibnu mulai gencar mencari gelaran kontes modifikasi buat memamerkan mobilnya. Meski belum berhasil meraih gelar juara, tetap saja enggak mematahkan semangatnya.
Demi penampilan
Tujuan utama modifikasi memang mengejar satu kata: penampilan. Enggak peduli badan ajrut-ajrutan atau diomelin orangtua, demi tampilan berbeda dari mobil sejenis, apa pun dilakukan. Padahal, sehebat apa pun modifikasinya, kalau kendaraan jadi tidak bisa dipakai malah sangat percuma.
“Setelah merasakan banyak banget enggak enaknya pakai mobil yang dimodifikasi, akhirnya terpaksa gue jual aja. Soalnya kalau memang enak, pasti bakal gue pakai terus sampai sekarang. Apalagi sekarang gue benar-benar mengandalkan mobil sebagai sarana transportasi. Jadi, harus pakai yang nyaman dan enak dikendarain,” begitu pengakuan jujur Nanis.
Sayang juga sebenernya kalau ujungnya harus seperti ini. Apalagi kalau mengingat modifikasi tersebut sudah mengeluarkan banyak biaya. Lantaran ini, beberapa teman kita mau enggak mau terus mempertahankan kendaraan yang sudah mengalami perubahan fungsi gara-gara dimodifikasi. Masalah kenyamanan urusan belakangan. Tapi, buat yang sadar kayak Nanis tadi, ada semacam pembelajaran yang didapat.
“Ini gue anggap sebagai pengalaman kalau gue tuh jangan terlalu cepat mengambil keputusan saat pengin modifikasi mobil. Sebenarnya sih masih banyak modifikasi yang belum kesampaian gue lakukan. Lagian modifikasi kan memang enggak ada habis-habisnya. Apalagi kalau nurutin nafsu. Tapi, sekarang gue enggak lagi kayak gitu,” katanya.
Beberapa pemilik bengkel modifikasi pun menyarankan hal yang serupa. Sebisa mungkin modifikasi jangan sampai mengubah fungsi. Padahal, ada keuntungan besar yang mereka dapat dengan menuruti kemauan pelaku modifikasi yang enggak ada habis-habisnya. Tapi, bukan berarti mereka lantas setuju dengan keinginan modifikasi yang gila-gilaan.
“Modifikasi memang tergantung selera orangnya, mau yang ekstrem atau sesuai kebutuhan. Tapi, usahakan jangan sampai mengubah fungsi. Contohnya modifikasi audio yang sampai membuang jok mobil, atau menghilangkan fungsi bagasi. Kebanyakan anak SMA pengin modifikasi gila-gilaan kayak gini karena lebih mementingkan gaya. Kadang fungsi yang sudah ada cuek saja dihilangkan. Sebaiknya jangan sampai kayak gitu!” tutr Hendrik, salah satu modifikator top di Jakarta.
Nah, pakarnya saja sudah bilang kayak begitu. Modifikasi sih boleh-boleh saja, asal jangan berlebihan dan tetap utamakan fungsi!
source:kompas.com
Auto Loans Refinance lower your monthly bill

